Memeluk Emosi Sendiri

girl-447701_1920
pixabay.com

Dan pada akhirnya kita harus belajar memeluk,

Memeluk kamu, wahai emosiku…

Dalam diam dan tenang.

 

Belum sempat aku berkata-kata,

Akan jadi berat buat kamu.

Memeluk emosi sendiri…

Belajar untuk bisa.

 

Aku berteman dalam diam,

Tidak sakit ternyata,

Jika sudah terbiasa.

Memeluk emosi sendiri…

 

Tenangkan hati

Bahwa semua ini bukan salahmu…

Hanya aku yang ingin,

Memeluk emosi sendiri…

 

Ternyata tidak ada yang salah,

Biar saja semesta bekerja,

Yang milikku akan menjadi milikku,

Dan yang bukan milikku pasti akan pergi…

Dengan sendiri.

@bicaraahati on instagram

menemukanmu mudah saja
melewatkanmu mengapa susah?
aku dibuat berputar-putar sempat logika hilang
kau pun mencoba-coba melupakan
kita berdua dibodohi oleh emosi

Terjadi maka terjadilah,
Tak usah kita ambil rumit
Kan benar adanya rasa bahagia saat ini,
Bahwa besok atau nanti masih sebuah fiksi
Rasakan saja hari ini
Nikmatilah setiap detik
Boleh saja kau risau
Tetapi buat apa?
Karena aku saat ini satu bersamamu

#bicaraahati #kehidupan #cinta #kehidupanmanusia #bersyukur #rasasyukur #dewasa #kedewasaan #keputusan #hidup #quotes #aboutlife #masadepan #futurelife #growingup #lovelife #motivasi #motivationquotes #cerita #fiksimini #fiksi #sastra

Waktu hujan di sore hari

20191030_040813_0000

Waktu hujan sore-sore,
Aku menikmati sejuknya udara saat itu.
Kenyamanan diwaktu mendengar gemuruhnya air yang jatuh membasahi tanah.
Sudah lama jadi kemarau

Kita merangkai mimpi,
Untuk segera bersama…jangan pernah lupa.
Walau hujan dan kemarau,
Hingga hati meracau,
Aku duduk disebelahmu penuh cinta.

Kau bulan,
Kau sanding cahaya,
Aku terpapar sinar indahmu,
Di setiap saat.

Waktu hujan sore-sore,
Kita bersama menikmati kopi,
Kau campur punyamu dengan sedikit gula,
Dan aku nikmat dengan pahitnya.

Sayang,
Jangan pernah lupa

Selalu

Kapan aku harus terus bersabar?
Kapan aku dinantikan?
Kapan aku diberi tempat?
Katanya kau cinta aku,
Tapi hanya sebatas kata-kata

Nikmat selalu kudengar, bisikkan rindumu. Bagai angin surga berhembus tak kenal waktu. Nikmat selalu kudengar, tenang suaramu. Yang menggema dialiran darahku.

Cinta itu seharusnya memberi dan menerima, sama halnya dengan pengertian pun harus saling melakukan. Apakah aku bisa ? Padahal kita adalah sepasang kekasih.

SelaluIMG_20190925_214034_362

 

Belum Beruntung

Belum beruntung, iya itu aku

Menjadi urutan pertama

Sedari kecil dirasa, walaupun memegang piala

Adikku tak pernah juara kelas,

Tapi selalu beruntung,

Punya orang yang dicintai dan mencintai,

Walau ibu kami pergi ke surga

Belum beruntung, iya itu aku

Apa saja yang aku dapat,

Harus dengan usaha dan kerja keras

Bukan karena dewi fortuna berpihak

Belum beruntung, iya itu aku

Terus merasakan pedih dan pahit rasanya cinta,

Manis sebentar, getir berkepanjangan

Belum beruntung, iya itu aku

Berkali-kali aku jatuh,

Butuh tangisan buat orang bersimpati

Sungguh kasihan jadi diriku

Belum beruntung, iya itu aku

Badan letih,

Berkali-kali mengeluh sepi

Takut bercerita, nanti mengantuk

Belum beruntung, iya itu aku

Ternyata berdua tak abadi, itu katanya

Belum beruntung dalam cinta

Pun ak usudah buat segala cara,

Agar kamu tau apa yang aku rasa,

Walau ternyata tak berguna

Sebagian puisi di atas begitu mewakili apa yang aku rasakan akhir-akhir ini. Aku merasakan kejatuhan yang begitu dalam, siapa yang harus disalahkan ? sepertinya tidak ada, tidak ada yang salah disini. Aku menyadari kemungkinan masalahnya ada pada aku, yang butuh seorang ahli jiwa. Aku merasakan berkali-kali diterbangkan oleh cintanya, dan berkali-kali pun dibuat larut dalam bayang-bayang kegagalan. Entah apa ini, ibaratnya aku menjadi orang yang sangat tidak beruntung soal cinta.

Berbagai cara aku coba untuk melengkapi dan memenuhi segala kebutuhan emosi yang diinginkannya, tetapi aku belum beruntung untuk dimengerti. Aku bagai menyambung serpihan hati, itu katanya. Kata-kata yang terlintas darinya, dari hati di tengah malam.

Sesungguhnya aku hanya ingin membalas semua duka yang dulu pernah kamu rasakan, bersama aku atau tanpa aku. Aku berpikir bahwa sosok aku bisa membalur sedih yang kamu rasakan pun bisa menjadi suntikan harapan.

Kamu belum pernah merasakan disaat bagian-bagian cinta akan hilang, yang sudah saatnya pergi. Kamu belum pernah merasakan, betapa sakitnya berkata rindu tanpa didengar oleh telinga. Hanya doa-doa yang disampaikan, berharap tiba di tempat tujuan, di surga sana. Kamu belum pernah kehilangan teman bercerita yang menerima kamu apa adanya, kamu beruntung.

Bahkan saat ini aku berjuang dengan sekuat tenaga untuk tidak ingin kehilanganmu, walau sedikit rasa yang sebaliknya darimu. Tetapi kamu memilih untuk mengacuhkanku, memilih kepentinganmu sendiri. Saat ini, aku tak punya kuasa dan daya untuk menuntutmu, karena kemungkinan predikat kurang beruntung terus memihak aku.

Yang harus kamu ingat adalah aku tidak ingin kehilangan ritme cinta kita, tidak ingin kehillangan semangat kita untuk bersama nanti disuatu saat. Aku bingung, ribuan rencana dan mimpi aku bersamamu, apakah kau juga seperti itu? Bermimpi dan berusaha mewujudkannya??

Di dunia ini, mungkin kita bisa bertemu pada akhirnya.

Tetapi, jika terlambat, doakan aku, disaat kamu melihat langit dan purnama itu.

Bintang jatuh tak akan mungkin mengembalikan raga jika telah pergi,

Namun mungkin dapat menghantar doa-doa kamu, kepada aku.

“Kalau saja ada yang bisa memilih berdosa dan tidak berdosa, aku memilih berdosa karena kamu. Dan jika kedua mata ini menutup, bisikkan kata sayang dan kelak aku pergi tenang”

 

Create your website with WordPress.com
Get started